Barang kali salah satu faktor penyebab munculnya penolakan untuk memosisikan ilmu dalam membenarkan al-qur’an dan makna- maknanya itu berdasarkan kesalahkaprahan sebagian orang dalam memahami fakta ilmiah.
Dari sisi lain kalangan orang yang menentangtren pembahasan kemukjizatan al-qur’an dari segi sains yang tampak telah terlepas dari makna dan konsepsi dasar semula, artinya dalam pandangan mereka bahwa simpulan ilmu bersifat tidak pasti, bahkan kalangan ilmuan mugkin keliru dan terbatas. Meskipun demikian hal ini semestinya tidak harus diartikan bahwa hokum- hokum sains yang telah dicapai oleh kalangan ilmuan setelah melalui proses uji eksperimental yang sangat teliti itu tidak benar, hokum isaac newton tentang gravitasi dan gerak misalnya merupakan fakta obyektif dengan tingkat kebenaran dan ketepatan yang sangat tinggi kita telah menguji kebenarannya didepan mata kita sendiri dialam nyata dan kita telah memanfaatkan hasil temuan teori tersebutdalam menghasilkan teknologi tinggi yang membantu kita dalam menembus angkasa luar, teori itu juga menguatkan persepsi bahwa bumi bulat dan berputar, matahari tetap pada poros masing- masingfakta- fakta itu tidak dibatalkan oleh teori yang muncul baru-baru ini berkenaan dengan relativitas, posibilitas, keraguan, an mekanisme kuantitatif.
Begitulah kita temukan bahwa fakta alam yang diketahui makna dan batasanya oleh kalangan ilmuan tidak runtuh bersama zaman tetapi makin bertambah jelas bersamaan dengan upaya yang dilakukan kalangan cendikiawan. Masalahnya adlah teori- tori ilmiah biasanya mengepresikan fakta ilmiah yang terbatas. Akan tetapi tidak benar jika fakta yang bersifat persial ini kita jadikan bukti atas keterbaasan ilmu karena ilmu secara alami akan berkembang dalam menemukan teori- teori baru tentang fakta alami yang pasti, setelah ayat- ayat al-qur’an menyitir soal itu. (dimensi sains al-qur’an)


1 komentar:
artikelnya fisika banget ka....
karya k2x yg mana ni????????????
o y buka blog de2 jga ya!!!!
Posting Komentar